Keluarga Korban M. Irwin Protes Tuntutan 17 Tahun, Desak Hukuman Mati untuk Terdakwa Pembunuhan Berencana di Montong Ajan

Senin, 6 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PRAYA. LOMBOK TENGAH – Sidang lanjutan kasus pembunuhan berencana di Montong Ajan dengan terdakwa Herman Jayadi alias Belo diwarnai protes keras keluarga korban. Tuntutan 17 tahun penjara dari Jaksa Penuntut Umum dinilai terlalu ringan dan mencederai rasa keadilan. Perkara nomor 4/Pid.B/2026/PN Pya di Pengadilan Negeri Praya memasuki agenda pledoi atau nota pembelaan terdakwa, Senin, April 2026. Sidang berlangsung singkat saat tim penasihat hukum Belo menyampaikan argumen terakhir di hadapan majelis hakim.

Sebelumnya, pada 12 Maret 2026, JPU Fajar Said S.H, LL.M, Ni Ketut Indah Primadani S.H, dan Wanda Meidina Akhmad S.H telah menuntut Belo dengan pidana 17 tahun penjara. Tuntutan itu didasarkan Pasal 459 UU No. 1 Tahun 2023 tentang KUHP Baru atas dugaan pembunuhan berencana terhadap korban M. Irwin. Dalam tuntutannya, JPU meminta majelis hakim menyatakan terdakwa terbukti bersalah sesuai dakwaan primer, tetap ditahan, dan membayar biaya perkara Rp5.000. Sejumlah barang bukti juga diminta dirampas untuk dimusnahkan, di antaranya :

Baca Juga :  Umi Dinda : Sinergi Pemerintah dan Organisasi Wanita Kunci Sukses Pembangunan Daerah

1 botol air mineral Netral kosong bekas campuran kalium  

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

1 bungkus plastik berisi potongan kalium berwarna putih  

1 botol air mineral berisi air dan bunga. Sarung hitam, baju lengan pendek biru langit, serta celana pendek biru langit milik korban M. Irwin.

Keluarga : “Tuntutan Terlalu Ringan, Kami Minta Hukuman Mati” 

Meski sidang masih tahap pledoi, keluarga korban menyatakan penolakan tegas. Ahmad Halim, perwakilan keluarga korban, menilai tuntutan 17 tahun belum memenuhi rasa keadilan.

Baca Juga :  Persidangan Dana Siluman Bergulir, Keterangan Saksi Singgung Peran Gubernur NTB

“Tuntutan jaksa terlalu ringan. Kalau tidak, berpotensi timbul masalah baru di masyarakat,” tegas Halim, Senin, April 2026. Ia mendesak majelis hakim menjatuhkan pidana mati atau penjara seumur hidup.

Halim merujuk Pasal 459 KUHP Baru yang mengatur 3 opsi hukuman untuk pembunuhan berencana: pidana mati, penjara seumur hidup, atau penjara paling lama 20 tahun. “Tuntutan 17 tahun untuk Belo baru masuk opsi ketiga. Padahal terdakwa terbukti secara jelas merencanakan pembunuhan,” ujarnya. Ia juga mengingatkan Pasal 340 KUHP Lama yang masih berlaku untuk kasus sebelum 2 Januari 2026, dengan ancaman serupa: mati, seumur hidup, atau maksimal 20 tahun penjara. Unsur pembunuhan berencana — sengaja, merampas nyawa orang lain, dan dengan rencana terlebih dahulu — disebutnya telah terpenuhi.

Baca Juga :  DPW Lidik NTB Sambangi Kejati Setempat, Pertanyakan Hal Ini

Ancam Aksi Damai Tiap Sidang 

Keluarga korban memastikan akan terus mengawal kasus ini. Mereka berencana menggelar aksi damai di depan PN Praya setiap agenda persidangan berlangsung.

“Setiap orang yang dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain, dipidana karena pembunuhan berencana, dengan pidana mati, pidana penjara seumur hidup, atau pidana penjara paling lama 20 tahun,” tegas Halim mengutip bunyi pasal.

Sidang akan dilanjutkan dengan agenda tanggapan JPU atas pledoi penasihat hukum. Jaksa dijadwalkan memaparkan kembali fakta-fakta, bukti, serta pasal yang dilanggar terdakwa, sekaligus memohon hukuman setimpal dengan mempertimbangkan motif, tingkat kesalahan, dan dampak kejahatan. (RED)

Penulis : TOH

Editor : Rossidi

Sumber Berita : Lombokdaily.net

🗂️🗂️🗂️🗂️LOMBOKDAILY TERKAIT

Kubah Harapan dari Batunyala: Ketika Rp649 Juta Menjadi Titipan Amal untuk 50 Tahun Mendatang
Kejari Loteng Sita Aset Koruptor Bandara Lombok di Bali, Tiga Properti Mewah Siap Dilelang
Gebrak Awal Irjen Kalingga: BIZAM Jadi Saksi Pergantian Nahkoda Polda NTB
GONCANG! KEJARI LOTENG TURUN GUNUNG, SELAMATKAN 256 RIBU METER TANAH DESA DARI CENGKERAMAN SENGKETA
JAKSA LOTENG NAIK PITAM! ‘SIKAT’ OKNUM PPAT & KONSULTAN NAKAL KOTAK-KATIK PAJAK  
SKANDAL PENDIDIKAN LOTENG: MARK-UP, DOKUMEN HILANG, KADIS SEMBUNYI
KAJARI LOTENG TEGAS: “JANGAN COBA-CABA SUAP PAJAK, SEMUA KAMI MONITORING!”  
Jaga Tunas Bangsa, Jaga Indonesia: Pesan Haru Kapolres Loteng di Harkitnas ke-118
Berita ini 65 kali dibaca

🗂️🗂️🗂️🗂️LOMBOKDAILY TERKAIT

Sabtu, 23 Mei 2026 - 12:32 WIB

Kubah Harapan dari Batunyala: Ketika Rp649 Juta Menjadi Titipan Amal untuk 50 Tahun Mendatang

Sabtu, 23 Mei 2026 - 06:10 WIB

Kejari Loteng Sita Aset Koruptor Bandara Lombok di Bali, Tiga Properti Mewah Siap Dilelang

Jumat, 22 Mei 2026 - 20:45 WIB

Gebrak Awal Irjen Kalingga: BIZAM Jadi Saksi Pergantian Nahkoda Polda NTB

Kamis, 21 Mei 2026 - 17:52 WIB

GONCANG! KEJARI LOTENG TURUN GUNUNG, SELAMATKAN 256 RIBU METER TANAH DESA DARI CENGKERAMAN SENGKETA

Kamis, 21 Mei 2026 - 16:57 WIB

JAKSA LOTENG NAIK PITAM! ‘SIKAT’ OKNUM PPAT & KONSULTAN NAKAL KOTAK-KATIK PAJAK  

🗂️🗂️🗂️🗂️LOMBOKDAILY TERBARU

Kepolisian Lombokdaily

Gebrak Awal Irjen Kalingga: BIZAM Jadi Saksi Pergantian Nahkoda Polda NTB

Jumat, 22 Mei 2026 - 20:45 WIB