SADE HARUS BANGKIT, TAPI WAJAH ASLINYA JANGAN HILANG

Kamis, 27 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PUJUT, Lombok Tengah – Kebakaran hebat yang melanda Dusun Adat Sade, Desa Rembitan, Pujut, Sabtu malam (23/8/2026) lalu harus jadi pelajaran besar.

Data pemerintah, kebakaran itu menghanguskan 75 rumah dan 69 art shop milik warga. Bupati Lombok Tengah mencatat korban terdampak sekitar 320 jiwa atau 120 Kepala Keluarga.

Pakar Lingkungan Dr. (C). H.M. Nujumuddin angkat bicara. Kata dia, ini bukan sekedar musibah rumah kebakar. Sade itu bukan kumpulan bale-bale saja. Ini ruang hidup orang Sasak, ada sejarah, ada budaya, ada pariwisata yang sudah terkenal sampai luar negeri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut Dr. Nujum atau yang akrab disapa Nujum, penyebab api harus diselidiki dulu sama polisi. Jangan langsung menuduh. Tapi setiap kebakaran harus dilihat dari dua sisi: dari mana apinya, dan kenapa apinya bisa cepat besar.

Nah, di Sade, rumahnya pakai kayu, bambu, dan atap alang-alang. Itu memang cantik dan alami, tapi kalau sudah kena api memang cepat merembet. Apalagi jarak bale satu dengan yang lain rapat, beda sama perumahan modern.

Baca Juga :  Polres Loteng Siapkan Tujuh Hektar Lahan Tidur Untuk Dijadikan Lahan Produktif

“Di sinilah persoalan besar muncul. Keinginan memperkuat keselamatan tidak boleh menjadi alasan untuk menghilangkan bentuk asli rumah adat,” kata Nujumuddin.

Ia menegaskan, rumah yang kebakar harus dibangun lagi sama persis seperti dulu. Bentuk atapnya, tingginya, arah hadapnya, bahannya, tata ruangnya harus tetap. Jangan sampai atas nama bantuan, Sade malah berubah jadi kampung baru yang hilang Sasaknya.

Kenapa? Karena kalau bale di Sade terbakar, yang hilang bukan cuma kayu dan bambu. Yang hilang itu sejarah keluarga, tempat menenun, tempat naruh kerajinan, tempat nerima tamu.

Untuk itu, Nujumuddin minta prinsipnya jelas: BENTUK LAMA, SISTEM KEAMANAN BARU.

Maksudnya begini:

1. Data dulu sebelum bangun. Tiap rumah yang kebakar harus difoto, diukur, digambar, kalau perlu di-scan 3 dimensi. Siapa pemiliknya, fungsinya untuk apa, posisinya di mana. Jadi ada bank data Sade.

Baca Juga :  Kapolres Ini Temui Kejari

2. Luar tetap Sade, dalam lebih aman. Dari luar tetap kelihatan bale Sasak asli. Tapi di dalamnya instalasi listrik harus diperbaiki total, pakai pengaman yang standar. Jangan asal sambung.

3. Alat pemadam harus ada di Sade. Harus ada sumber air yang dekat, alat pemadam di titik-titik strategis, alarm peringatan dini, jalur untuk lari kalau ada api, dan akses mobil pemadam. Kalau perlu minimal satu unit mobil damkar ditaruh tetap di Dusun Sade.

4. Warga jadi garda depan. Jangan nunggu damkar datang baru bergerak. Warga harus dilatih rutin cara mencegah api, cara pakai alat pemadam, cara evakuasi.

5. Ekonomi warga harus pulih cepat. Banyak warga kehilangan bukan cuma rumah, tapi juga tempat cari makan. Tempat tenun, alat tenun, bahan baku, lapak jualan ikut kebakar. Bantuan jangan cuma kasih kayu dan paku. Kasih juga alat tenun, modal, tempat jualan sementara.

Baca Juga :  Kepala BPJS Tenaga Kerja Tidak Hadir di Acara Hari Buruh Mataram, Yustinus Habur Desak Kepala BPJS Pusat Diberhentikan : Ancaman Demo Besar-besaran

6. Jangan kerja sendiri-sendiri. Pemulihan Sade harus pakai cara kita: Sangkep Warige. Semua harus duduk bareng – pemerintah, pemangku adat, tokoh masyarakat, arsitek, ahli lingkungan, ahli bencana, pelaku wisata. Jangan cuma diputuskan lewat proyek fisik saja.

“Pengetahuan lokal orang Lombok soal alam itu banyak. Itu jangan dibuang. Harus digabung sama teknologi modern. Jadi warga bukan jadi penonton, tapi jadi pemilik dan penjaga kampungnya sendiri,” tutup Nujumuddin.

Ia berharap, dari puing-puing kebakaran ini justru lahir model baru, kampung adat yang tetap tulen, tetap asli, tapi lebih aman, lebih tangguh, dan siap diwariskan ke anak cucu.|Editor: Muhammad ROSIDI

Penulis : TOH

Editor : Rossidi

Sumber Berita : Lombokdaily.net

🗂️🗂️🗂️🗂️LOMBOKDAILY TERKAIT

GEGER! Ikan Laut Dalam 4 Meter Terdampar di Pantai Pink, Pakar NTB: Bukan Tanda Gempa, Jangan Panik
Lima Bulan di Loteng, Kasi Intel Kejari Alfa Dera Pamit ke Jogja: Jaga Lombok, Jangan Sampai Sasak Jadi Tamu di Rumah Sendiri
118 WARTAWAN NTB LOLOS PORWANAS, LOTENG KIRIM ROSIDI MAIN DOMINO
PIPIL 190 LAWAN SPPT, KELUARGA YUSUF TANTANG BALIK: “MANA SERTIFIKATMU?”
Sasaka Nusantara NTB: Kepemimpinan Gubernur Dinilai Belum Objektif  
Uang Parkir Loteng Tembus Rp1,6 Miliar, Tapi Rp1,5 Miliarnya Cuma dari Bandara. Sisanya Kemana?
Ketum ARB: Proyek Pokir DPRD Loteng Harus Transparan
Dugaan Korupsi BGN : Ex Kepala Badan Disebut Terima Rp1 Miliar per Hari dari Jual Beli Titik SPPG MBG, Sasaka Nusantara Desak Kejagung Usut Tuntas
Berita ini 3 kali dibaca

🗂️🗂️🗂️🗂️LOMBOKDAILY TERKAIT

Kamis, 27 Agustus 2026 - 21:43 WIB

SADE HARUS BANGKIT, TAPI WAJAH ASLINYA JANGAN HILANG

Kamis, 27 Agustus 2026 - 09:40 WIB

GEGER! Ikan Laut Dalam 4 Meter Terdampar di Pantai Pink, Pakar NTB: Bukan Tanda Gempa, Jangan Panik

Selasa, 25 Agustus 2026 - 10:30 WIB

Lima Bulan di Loteng, Kasi Intel Kejari Alfa Dera Pamit ke Jogja: Jaga Lombok, Jangan Sampai Sasak Jadi Tamu di Rumah Sendiri

Kamis, 2 Juli 2026 - 18:37 WIB

118 WARTAWAN NTB LOLOS PORWANAS, LOTENG KIRIM ROSIDI MAIN DOMINO

Selasa, 30 Juni 2026 - 18:09 WIB

PIPIL 190 LAWAN SPPT, KELUARGA YUSUF TANTANG BALIK: “MANA SERTIFIKATMU?”

🗂️🗂️🗂️🗂️LOMBOKDAILY TERBARU

Pemerintahan Lombokdaily

1.004 Anggota BPD Lombok Tengah Resmi Dilantik, Bupati: Ini Amanah Rakyat

Kamis, 27 Agu 2026 - 22:10 WIB

Steatment Lombokdaily

SADE HARUS BANGKIT, TAPI WAJAH ASLINYA JANGAN HILANG

Kamis, 27 Agu 2026 - 21:43 WIB

Kepolisian Lombokdaily

Wakapolda NTB Turun ke Bintaro, Ajak Warga Jaga Keamanan Bareng-Bareng

Rabu, 26 Agu 2026 - 21:35 WIB

Kepolisian Lombokdaily

Saat BKO di NTT, Brimob NTB Bantu Warga Nioniba yang Kesulitan Air

Rabu, 26 Agu 2026 - 14:42 WIB