PUJUT, Lombok Tengah – Kebakaran hebat yang melanda Dusun Adat Sade, Desa Rembitan, Pujut, Sabtu malam (23/8/2026) lalu harus jadi pelajaran besar.
Data pemerintah, kebakaran itu menghanguskan 75 rumah dan 69 art shop milik warga. Bupati Lombok Tengah mencatat korban terdampak sekitar 320 jiwa atau 120 Kepala Keluarga.
Pakar Lingkungan Dr. (C). H.M. Nujumuddin angkat bicara. Kata dia, ini bukan sekedar musibah rumah kebakar. Sade itu bukan kumpulan bale-bale saja. Ini ruang hidup orang Sasak, ada sejarah, ada budaya, ada pariwisata yang sudah terkenal sampai luar negeri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Dr. Nujum atau yang akrab disapa Nujum, penyebab api harus diselidiki dulu sama polisi. Jangan langsung menuduh. Tapi setiap kebakaran harus dilihat dari dua sisi: dari mana apinya, dan kenapa apinya bisa cepat besar.
Nah, di Sade, rumahnya pakai kayu, bambu, dan atap alang-alang. Itu memang cantik dan alami, tapi kalau sudah kena api memang cepat merembet. Apalagi jarak bale satu dengan yang lain rapat, beda sama perumahan modern.
“Di sinilah persoalan besar muncul. Keinginan memperkuat keselamatan tidak boleh menjadi alasan untuk menghilangkan bentuk asli rumah adat,” kata Nujumuddin.
Ia menegaskan, rumah yang kebakar harus dibangun lagi sama persis seperti dulu. Bentuk atapnya, tingginya, arah hadapnya, bahannya, tata ruangnya harus tetap. Jangan sampai atas nama bantuan, Sade malah berubah jadi kampung baru yang hilang Sasaknya.
Kenapa? Karena kalau bale di Sade terbakar, yang hilang bukan cuma kayu dan bambu. Yang hilang itu sejarah keluarga, tempat menenun, tempat naruh kerajinan, tempat nerima tamu.
Untuk itu, Nujumuddin minta prinsipnya jelas: BENTUK LAMA, SISTEM KEAMANAN BARU.
Maksudnya begini:
1. Data dulu sebelum bangun. Tiap rumah yang kebakar harus difoto, diukur, digambar, kalau perlu di-scan 3 dimensi. Siapa pemiliknya, fungsinya untuk apa, posisinya di mana. Jadi ada bank data Sade.
2. Luar tetap Sade, dalam lebih aman. Dari luar tetap kelihatan bale Sasak asli. Tapi di dalamnya instalasi listrik harus diperbaiki total, pakai pengaman yang standar. Jangan asal sambung.
3. Alat pemadam harus ada di Sade. Harus ada sumber air yang dekat, alat pemadam di titik-titik strategis, alarm peringatan dini, jalur untuk lari kalau ada api, dan akses mobil pemadam. Kalau perlu minimal satu unit mobil damkar ditaruh tetap di Dusun Sade.
4. Warga jadi garda depan. Jangan nunggu damkar datang baru bergerak. Warga harus dilatih rutin cara mencegah api, cara pakai alat pemadam, cara evakuasi.
5. Ekonomi warga harus pulih cepat. Banyak warga kehilangan bukan cuma rumah, tapi juga tempat cari makan. Tempat tenun, alat tenun, bahan baku, lapak jualan ikut kebakar. Bantuan jangan cuma kasih kayu dan paku. Kasih juga alat tenun, modal, tempat jualan sementara.
6. Jangan kerja sendiri-sendiri. Pemulihan Sade harus pakai cara kita: Sangkep Warige. Semua harus duduk bareng – pemerintah, pemangku adat, tokoh masyarakat, arsitek, ahli lingkungan, ahli bencana, pelaku wisata. Jangan cuma diputuskan lewat proyek fisik saja.
“Pengetahuan lokal orang Lombok soal alam itu banyak. Itu jangan dibuang. Harus digabung sama teknologi modern. Jadi warga bukan jadi penonton, tapi jadi pemilik dan penjaga kampungnya sendiri,” tutup Nujumuddin.
Ia berharap, dari puing-puing kebakaran ini justru lahir model baru, kampung adat yang tetap tulen, tetap asli, tapi lebih aman, lebih tangguh, dan siap diwariskan ke anak cucu.|Editor: Muhammad ROSIDI
Penulis : TOH
Editor : Rossidi
Sumber Berita : Lombokdaily.net




















