Bukan Di-Hack! Trik Psikologis Penipu WhatsApp Bermodal Foto Pejabat yang Harus Kita Waspadai

Sabtu, 11 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Dr. Alfa Dera, S.H., M.H., M.M. 

Kepala Seksi Intelijen Kejaksaan Negeri Lombok Tengah

Ada pola yang terus berulang dan selalu meresahkan. Setiap kali pejabat baru dilantik, setiap kali kasus besar jadi sorotan, atau setiap kali wajah tokoh muncul di media, komplotan penipu langsung pasang kuda-kuda. Mereka penumpang gelap yang lihai membaca momentum.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Yang pertama kali muncul di benak kita saat dapat chat dari nomor baru berfoto pejabat biasanya satu: panik. “Waduh, WhatsApp Pak A kena hack!” Bisik-bisik itu cepat menyebar. Padahal, kepanikan itulah yang justru mereka incar.

Mari kita luruskan. Modus catut nama pejabat untuk pinjam uang ini *bukan peretasan*. Beda jauh dengan pencurian OTP atau jebakan klik link undangan nikah palsu. Di sini, pelaku tidak menyentuh akun asli korban sedikit pun. Triknya sesederhana ini: beli nomor baru, comot foto pejabat dari Google atau berita online, pasang jadi foto profil WhatsApp, lalu mulai sebar jaring. Ini bukan _hacking_. Ini pencurian identitas visual.

Baca Juga :  Silaturrahmi di Ujan Rintis, Relawan se-Lombok Desak HL.Pathul Maju Pilgub

Ini Bukan Amatir, Ini Industri

Bayangan kita soal penipu mungkin masih sosok amatir di warung kopi dengan satu HP. Faktanya jauh lebih menyeramkan. Mereka sudah berevolusi jadi kejahatan terorganisir, bekerja seperti pabrik.

Mereka tidak lagi mengetik satu per satu. Dengan satu komputer dan software khusus, sindikat ini bisa menjalankan ribuan nomor WhatsApp sekaligus dengan profil palsu berbeda-beda. Pesan penipuan disebar otomatis ke ribuan target dalam sehari.

Logika bisnisnya sederhana dan kejam: dari 1000 pesan, cukup 10 orang saja yang transfer. Cuan sudah miliaran, dengan risiko tertangkap nyaris nol.

Mengapa Kita Masih Kena? Mereka Jual Rasa Segan

Kalau semudah ganti foto profil, kenapa masih banyak yang kena, termasuk kalangan terpelajar? Jawabannya ada di rekayasa sosial. Pelaku menargetkan celah psikologis kita : .

Otak kita dilatih untuk segan dan patuh pada figur berkuasa. Saat chat masuk dengan foto atasan atau penegak hukum, filter logika kita sering mati. Digantikan rasa tidak enak kalau menolak.

Baca Juga :  AJI Mataram Desak BKN RI Evaluasi Kinerja Kepala UPT BKN Mataram

Trik kedua adalah , ilusi urgensi. Mereka tidak pernah minta uang dengan santai. Selalu ada cerita darurat: keluarga sakit, butuh dana taktis mendadak, atau kegiatan sosial mendesak. Tujuannya satu, membuat kita panik dan transfer tanpa berpikir panjang.

Taktik Paling Berbahaya : Meminta Nomor Orang Lain

Ada satu jurus mereka yang lebih licik. Mereka tidak langsung minta uang. Chat pertama isinya minta tolong: “Bisa minta nomornya Pak Kades X? Saya kehilangan kontak.”

Ini cara mereka memetakan jaringan sosial kita. Saat mereka hubungi Kades X, mereka sudah punya “legitimasi”: “Nomor Bapak saya dapat dari si A.” Memberi nomor orang lain sembarangan sama saja membukakan pintu rumah teman kita untuk dirampok.

 

3. Jurus Ampuh Memutus Rantai Penipuan Ini

Melawan sindikat ini tidak butuh jadi ahli IT. Cukup dengan rasionalitas digital. Jadikan 3 hal ini kebiasaan baru:

1. Lupakan Foto Profil, Cek Nomornya

Foto profil bisa dicuri siapa saja. Nomor telepon tidak. Jika “pejabat” chat pakai nomor baru dan permintaannya aneh, anggap itu sebagai red flag

Baca Juga :  Kegiatan Program Penanaman Padi Lahan Kering Sukses Dilaksanakan Di Desa Kabul Loteng

2. Lawan dengan Video Call

Ini tes pamungkas. Penipu 100% tidak akan berani angkat video call karena wajahnya ketahuan. Mereka akan berdalih: lagi rapat, sinyal jelek, kamera rusak. Jika minta uang tapi menolak video call, langsung blokir.

3. Jangan Asal Kasih Nomor Teman

Jika ada yang minta nomor kolega Anda, konfirmasi dulu ke orangnya lewat jalur komunikasi lama yang pasti aman. Tanyakan, “Boleh saya kasih nomormu ke orang yang ngaku Pak X ini?

Pada akhirnya, logika birokrasi kita juga harus jalan. Pejabat dan aparat punya kode etik ketat. Meminjam uang atau minta dana talangan via WhatsApp ke bawahan adalah hal yang sangat tidak wajar.

Sindikat ini adalah mesin yang mencari celah panik kita. Senjata terbaiknya bukan aplikasi canggih, tapi sikap tenang, rasional, dan kebiasaan verifikasi ganda. Jika kita semua melakukannya, “industri” penipuan ini akan mati kelaparan. (TH).

Penulis : Redaksi

Editor : Redaksi

Sumber Berita : Lombokdaily.net

🗂️🗂️🗂️🗂️LOMBOKDAILY TERKAIT

NYAWA ANAK JADI TARUHAN! Kasus Dapur MBG Repok Puyung Meledak, Pakar: Jangan Cuma Hitung Porsi, Audit Total SPPG Sekarang! 
Empat Tahun Hidup dengan Psoriasis Usai Booster Covid-19, Warga NTB Tagih Kepastian Negara
PDAM Lombok Tengah Jangan Jadi Sapi Perah Politik
PDAM Loteng di Persimpangan: Pakar Desak Transparansi Uang Pelanggan dan Evaluasi Direksi
Pakar Lingkungan Desak ITDC Terbuka Soal CSR, Rangkul Pers dan Kreator Mandalika
SADE HARUS BANGKIT, TAPI WAJAH ASLINYA JANGAN HILANG
GEGER! Ikan Laut Dalam 4 Meter Terdampar di Pantai Pink, Pakar NTB: Bukan Tanda Gempa, Jangan Panik
Lima Bulan di Loteng, Kasi Intel Kejari Alfa Dera Pamit ke Jogja: Jaga Lombok, Jangan Sampai Sasak Jadi Tamu di Rumah Sendiri
Berita ini 37 kali dibaca

🗂️🗂️🗂️🗂️LOMBOKDAILY TERKAIT

Sabtu, 12 September 2026 - 11:36 WIB

NYAWA ANAK JADI TARUHAN! Kasus Dapur MBG Repok Puyung Meledak, Pakar: Jangan Cuma Hitung Porsi, Audit Total SPPG Sekarang! 

Kamis, 10 September 2026 - 09:02 WIB

Empat Tahun Hidup dengan Psoriasis Usai Booster Covid-19, Warga NTB Tagih Kepastian Negara

Jumat, 4 September 2026 - 16:36 WIB

PDAM Lombok Tengah Jangan Jadi Sapi Perah Politik

Kamis, 3 September 2026 - 07:21 WIB

PDAM Loteng di Persimpangan: Pakar Desak Transparansi Uang Pelanggan dan Evaluasi Direksi

Minggu, 30 Agustus 2026 - 23:08 WIB

Pakar Lingkungan Desak ITDC Terbuka Soal CSR, Rangkul Pers dan Kreator Mandalika

🗂️🗂️🗂️🗂️LOMBOKDAILY TERBARU