Kasus Gratifikasi DPRD NTB, Terdakwa Ancam Lapor Jaksa Agung dan DPR RI Komisi III, Soroti Diskriminasi Hukum

Sabtu, 4 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mataram– Kasus dugaan gratifikasi yang menyeret sejumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) makin memanas. Tiga terdakwa yang dituding sebagai pihak pemberi uang, yakni Indra Jaya Usman, Hamdan Kasim, dan M. Nashib Ikroman, merasa diperlakukan tidak adil dan berencana melaporkan penanganan kasus ini ke berbagai lembaga tinggi negara, termasuk Jaksa Agung dan DPR RI Komisi III. Langkah ini diambil menyusul dugaan tebang pilih dalam proses hukum, di mana para penerima uang gratifikasi hingga kini belum tersentuh jerat hukum.

M. Nashib Ikroman bahkan dengan tegas menyatakan akan melayangkan laporan kepada Komisi Kejaksaan, Ombudsman RI, Indonesia Corruption Watch (ICW), Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), hingga surat khusus kepada Presiden Indonesia Prabowo Subianto. Hal ini dilakukan karena ia menilai proses hukum yang berjalan saat ini sarat akan politisasi dan ketimpangan.

Baca Juga :  Peredaran Narkoba Di NTB Masif, 10 Orang Tersangka Diringkus, 4 Residivis

Dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU), disebutkan secara eksplisit bahwa sedikitnya 15 anggota DPRD NTB menerima uang dengan nominal yang bervariasi. Beberapa nama yang disebut antara lain Harwoto (Rp170 juta), Lalu Irwansyah Triadi (Rp100 juta), dan Nurdin Marjuni (Rp180 juta) dari Hamdan Kasim. Sementara itu, Lalu Arif Rahman, Humaidi, Marga Harun, Yasin, Muhhanan Mu’min Mushonnaf, dan Burhanuddin masing-masing disebut menerima Rp200 juta dari Indra Jaya Usman.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tak hanya itu, Wahyu Apriawan Riski disebut menerima Rp150 juta, Rangga Danu Mainaga Aditama Rp200 juta, serta Hulaimi, Ruhaiman, Salman, dan Muliadi masing-masing Rp150 juta, yang disebut berasal dari M. Nashib Ikroman.

Baca Juga :  Lombok Tengah Gagal Pertahankan Gelar Juara Umum

Ironisnya, meskipun nama-nama penerima ini secara jelas disebutkan dalam dakwaan dan bahkan sebagian sudah mengakui perbuatannya, mereka belum juga diproses secara hukum. Beredar pula kabar bahwa para penerima ini mendapatkan “jaminan” dari Ketua DPRD NTB dan pimpinan DPR RI, sebuah isu serius yang memerlukan verifikasi lebih lanjut.

Dari perspektif hukum, tindak pidana gratifikasi dan suap sejatinya tidak bisa berdiri sendiri. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, secara gamblang diatur bahwa tidak hanya pemberi, tetapi juga penerima gratifikasi atau suap adalah pelaku tindak pidana korupsi. Pasal 5 dan Pasal 13 mengancam pidana pemberi suap, sementara Pasal 12 dan Pasal 12B dengan tegas menyatakan penerima gratifikasi juga dijerat hukum. Pasal 12B bahkan menyebut gratifikasi kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara dianggap suap jika berkaitan dengan jabatan dan bertentangan dengan kewajiban.

Baca Juga :  Sengketa Tanah di Mandalika : LSM Maung NTB Bantah Klaim Mamiq Kalsum

Situasi ini memunculkan kekhawatiran akan pelanggaran asas equality before the law (persamaan di hadapan hukum) serta kesan adanya praktik tebang pilih. Kasus ini bukan hanya tentang siapa yang memberi dan menerima, tetapi juga mempertaruhkan kredibilitas aparat penegak hukum dalam menegakkan keadilan secara utuh dan tanpa diskriminasi. Tanpa keberanian untuk menindak semua pihak yang terlibat, publik berhak mempertanyakan integritas proses hukum yang berlangsung. (Toh)

Penulis : TOH

Editor : Rossidi

Sumber Berita : Lombokdaily.net

🗂️🗂️🗂️🗂️LOMBOKDAILY TERKAIT

Aset Jadi Prioritas Kejari Lombok Tengah, Pencegahan Diperkuat, Penindakan Siap Dilakukan
Peringati Hari Juang Polri, Kapolda NTB: Semangat Polisi Pejuang 1945 Harus Tetap Hidup
Jaksa Kejari Lombok Tengah Bongkar Jejak Kongkalikong Tender Truk Rp5,18 Miliar, Saksi Ungkap Peran Empat Terdakwa
Dana Desa Selong Belanak Diadukan, Kejari Praya : Laporan Sudah di Meja Pidsus
Kejari Loteng Mulai Proses Laporan Kasus Dugaan Penyelewengan DD/ADD Selong Belanak
Capaian Kejari Loteng 2025: Amankan 15 Proyek, Pulihkan Aset Negara Rp 3 Miliar
KEJARI BONGKAR SKANDAL TANAH WISATA LOTENG PMA Cangkang Dicurigai Jadi Alat Spekulasi, NJOP Rp20 Ribu vs Pasar Rp2 Juta
Viral Dulu Baru Tahu, Kemenag NTB: Izin Ponpes Tidak Langsung Dicabut
Berita ini 43 kali dibaca

🗂️🗂️🗂️🗂️LOMBOKDAILY TERKAIT

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 20:31 WIB

Aset Jadi Prioritas Kejari Lombok Tengah, Pencegahan Diperkuat, Penindakan Siap Dilakukan

Jumat, 21 Agustus 2026 - 18:06 WIB

Peringati Hari Juang Polri, Kapolda NTB: Semangat Polisi Pejuang 1945 Harus Tetap Hidup

Kamis, 20 Agustus 2026 - 13:53 WIB

Jaksa Kejari Lombok Tengah Bongkar Jejak Kongkalikong Tender Truk Rp5,18 Miliar, Saksi Ungkap Peran Empat Terdakwa

Selasa, 18 Agustus 2026 - 23:39 WIB

Dana Desa Selong Belanak Diadukan, Kejari Praya : Laporan Sudah di Meja Pidsus

Selasa, 18 Agustus 2026 - 20:41 WIB

Kejari Loteng Mulai Proses Laporan Kasus Dugaan Penyelewengan DD/ADD Selong Belanak

🗂️🗂️🗂️🗂️LOMBOKDAILY TERBARU

Pemerintahan Lombokdaily

Wabup Loteng Target Kemiskinan 10,31 Persen di 2026

Selasa, 1 Sep 2026 - 15:35 WIB