LOMBOK TENGAH – Bukan hanya kitab kuning dan hafalan ayat yang dijaga di pesantren. Di Pondok Pesantren Manhalul Ma’arif Darek, Senin (18/5), ada bekal lain yang dititipkan: tameng untuk jiwa di era yang serba tak kasat mata.
Puluhan santri duduk bersila, mata mereka tak lagi menatap layar gawai dengan biasa. Kali ini, layar itu dibuka lebar oleh “kakak asuh” dari Kejaksaan Negeri Lombok Tengah. Bukan untuk menghukum, tapi untuk merangkul sebelum luka itu ada.

ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Melalui program Jaksa Masuk Pesantren, Kepala Seksi Intelijen Alfa Dera dan tim datang membawa pesan yang menusuk kalbu: Di dunia maya, satu jempol bisa jadi pahala, tapi juga bisa jadi petaka.
Ketika Candaan Berujung Air Mata
Di hadapan 70 santri, Alfa Dera membedah luka-luka tak berdarah di balik layar. Flaming yang membakar hati. Doxing yang menelanjangi aib. Cyberstalking yang merenggut rasa aman. Semua dibahas bukan dengan nada menggurui, tapi dengan getar kasih seorang kakak yang tak ingin adiknya jatuh.
“Anak-anakku, ingatlah. Jejak digital itu seperti tulisan di batu karang. Ombak waktu tak akan menghapusnya. Candaan hari ini bisa menjadi tangis penyesalan seumur hidup,” ucap Alfa Dera, Selasa (19/5). Suaranya tegas, tapi sarat doa.
Ia yang dikenal membina mantan hacker paham betul: di balik akun anonim, ada wajah manusia yang bisa hancur. Karena itu ia berpesan, tabayyun dulu sebelum share. Saring sebelum menyebar. Sebab satu hoaks bisa memutus silaturahmi, satu hinaan bisa merobohkan mental.
Pesantren: Benteng Akhlak di Tengah Badai Digital
Kejaksaan Negeri Lombok Tengah memilih langkah hulu. Bukan menunggu santri terjerat UU ITE, tapi datang lebih dulu untuk menyalakan lentera. Ini bukan sekadar soal pasal dan hukuman. Ini tentang menjaga masa depan anak bangsa agar tak runtuh karena jari yang khilaf.
Sesi tanya jawab pun pecah. Para santri bertanya kritis: Di mana batas candaan dan pidana? Bagaimana hukum bisa mendidik, bukan mematikan mimpi? Pertanyaan-pertanyaan itu bukti, benih kesadaran telah tumbuh.
Kasi Intel Alfa Dera dan Kasubsi I Sainrama Pikasani Archimada hadir mewakili Kajari Putri Ayu Wulandari. Kehadiran mereka disambut hangat pengurus yayasan dan para ustadz. Harapannya satu: agar Manhalul Ma’arif tak hanya melahirkan hafidz dan ulama, tapi juga generasi melek hukum yang berakhlak digital.
Dari Darek untuk Indonesia
Di era ketika gawai lebih dekat dari sajadah, pesantren membuktikan diri. Ia bukan menara gading yang jauh dari dunia. Ia adalah benteng yang berdiri paling depan, menjaga akhlak anak bangsa dari gempuran hoaks dan cyberbullying.
Karena sejatinya, dakwah hari ini tak cukup hanya di mimbar. Tapi juga di kolom komentar, di grup WhatsApp, di setiap ketikan jari.
Dan kemarin, di Darek, para jaksa telah menitipkan pesan: Jadilah santri yang tak hanya takut kepada Tuhan, tapi juga bertanggung jawab pada setiap jejak yang kau tinggalkan di langit maya.
Editor: Muhammad ROSIDI
Penulis : TOH
Editor : Rossidi
Sumber Berita : Lombokdaily.net






















