Lombok Tengah – Di tengah ancaman malam yang tak pernah tidur, Polres Lombok Tengah kembali turun ke jalan lewat Patroli Rinjani Presisi. Jargon “hadir di tengah masyarakat” kembali digaungkan. Tapi pertanyaannya: hadir untuk mengamankan, atau hanya numpang lewat bawa rotator?
Apel Gagah, Aksi di Lapangan?
Patroli gabungan TNI-POLRI-POL PP ini dibuka dengan apel yang dipimpin langsung Kapolres AKBP Eko Yusmiarto, S.I.K. Arahannya tegas: humanis, profesional, responsif. Kata-kata yang enak didengar, tapi masyarakat butuh bukti, bukan pidato. 
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sasaran sudah jelas – titik rawan, pusat keramaian, jalur balap liar, hingga knalpot brong yang bikin kuping pekak. Tim menyisir lokasi, ngobrol dengan warga, membubarkan kerumunan larut malam. Semua terdengar seperti SOP patroli pada umumnya. Bedanya kali ini dibungkus nama “Rinjani Presisi”.
Kata Kapolres: Cegah, Bukan Memadamkan
“Melalui Patroli Rinjani Presisi ini, kami ingin memastikan Polri selalu hadir,” ujar AKBP Eko Yusmiarto. Kalimat normatif yang selalu muncul tiap ada patroli. Targetnya klise: cegah kriminalitas, balap liar, knalpot tak sesuai spek, sampai kecelakaan.
Pendekatan persuasif diklaim jadi senjata. Kelompok nongkrong malam didatangi, diedukasi, dibubarkan halus. Bagus di atas kertas. Tapi warga sudah kenyang janji “presisi”. Yang mereka tunggu: jalanan sepi begal, tidur tak terganggu deru knalpot, anak muda tak lagi adu nyali di aspal.
Presisi atau Seremoni?
Polres menyebut ini implementasi tugas pelindung, pengayom, pelayan. Intensitas patroli ditingkatkan, katanya, agar angka kriminalitas turun. Narasi yang diulang-ulang setiap tahun.
Masalahnya, “tugas rutin yang ditingkatkan” seringkali hanya kencang di awal, lalu kendor saat sorotan media padam. Masyarakat Lombok Tengah tak butuh patroli dadakan yang muncul saat pimpinan turun. Mereka butuh konsistensi – presisi yang benar-benar presisi, bukan sekadar nama operasi.
Jika Patroli Rinjani memang niat menjaga Kamtibmas, buktikan dengan malam-malam yang benar-benar senyap dari knalpot brong dan balap liar. Kalau tidak, ini cuma jadi satu lagi seremoni seragam: datang, foto, bubar.
Rakyat sudah cukup disuguhi kata “kondusif”. Yang mereka mau: aman tanpa syarat, bukan aman dalam siaran pers.||
Editor: Muhammad ROSIDI
Penulis : TOH
Editor : Rossidi
Sumber Berita : Lombokdaily.net






















