PRAYA TENGAH— Cuaca panas di bulan Oktober membuat banyak orang tidak nyaman. Lalu muncul ajakan membuang satu ember air ke jalan, dengan harapan air itu menguap, jadi awan, lalu turun hujan.
Pakar lingkungan, Dr. (C). H. Nujumuddin, M.Si., mengatakan cara itu salah kaprah. Panas memang membuat air menguap, tapi air satu ember di aspal tidak akan bisa membuat hujan.
“Kalau ada yang buang air ke jalan berharap bisa mendatangkan hujan, itu namanya salah memahami alam. Bahkan saya sebut gerakan kurang kerjaan,” kata Nujumuddin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menjelaskan, panas pada bulan Oktober ini terjadi karena matahari sedang berada tepat di atas wilayah selatan khatulistiwa. Pada tanggal 23 September lalu matahari bergeser ke selatan. Sekarang posisinya ada di atas Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Lampung.
Panas paling terasa sampai tanggal 28 Oktober. Mulai 1 November nanti, matahari sudah bergeser ke atas Samudera Indonesia, jadi udara tidak sepanas sekarang.
Panas juga diperkuat karena langit cerah, awan sedikit, dan udara kering. Tahun ini, BMKG juga menyebut ada El Niño yang sangat kuat dan IOD positif. Dua hal itu membuat awan hujan sulit terbentuk.
Menurut Nujumuddin, hujan tidak sesederhana air menguap lalu turun lagi di tempat yang sama. Uap air harus naik ke langit, mendingin, jadi awan, lalu butir airnya membesar baru bisa jatuh sebagai hujan. Semua itu butuh kelembapan, angin, dan kondisi udara yang pas.
Jumlah air dari satu ember juga sangat kecil. Bandingkan dengan lautan yang luasnya lebih besar dari daratan Indonesia. Setiap hari laut, sungai, tanah, dan tumbuhan sudah menguap dengan sendirinya tanpa perlu kita buang air ke jalan.
Justru membuang air ke jalan bisa jadi pemborosan. Apalagi di daerah yang sedang susah air bersih. Air yang dibuang itu lebih baik untuk mandi, masak, atau menyiram tanaman. Kalau dibuang di jalan ramai, jalan bisa licin dan berbahaya. Kalau airnya kotor, bisa menimbulkan bau busuk.
Daripada sibuk buang air ke jalan, Nujumuddin mengajak warga melakukan hal yang lebih berguna: Hemat air. Tanam dan rawat pohon peneduh. Perbanyak ruang hijau. Jaga saluran air dan sumber air. Ikuti info cuaca dari BMKG
Pemerintah daerah juga diminta memperbanyak pohon, merawat ruang terbuka hijau, dan menjaga daerah resapan air.
Saat panas terik, warga sebaiknya mengurangi aktivitas berat di siang hari, pakai pelindung dari matahari, dan cukup minum.
“Kalau ingin membantu alam, lakukan yang benar-benar bermanfaat. Hemat air, tanam pohon, rawat lingkungan, dan ikuti informasi BMKG. Jangan sibuk buang air ke jalan, sementara masalah lingkungan yang sebenarnya tidak kita urus,” pungkasnya. Editor : Muhammad ROSIDI
Penulis : TOH
Editor : Rossidi
Sumber Berita : Lombokdaily.net





















