Lombokdaily.net. Lombok Tengah – Pakar Lingkungan Dr. (C). H. Nujumuddin, M.Si., membeberkan proyeksi klimatologi lengkap untuk wilayah Nusa Tenggara dan sekitarnya hingga kuartal I tahun 2027. Menurut Nujumuddin, dinamika cuaca dalam beberapa bulan ke depan akan mengalami pergeseran yang cukup signifikan dan perlu diantisipasi masyarakat, khususnya petani dan nelayan.
Oktober Puncak Panas, November Hujan Mulai Turun
Dijelaskan Nujumuddin, bulan Oktober ini adalah puncak terpanas. Suhu udara tinggi yang dirasakan saat ini adalah hal wajar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Ini adalah siklus hidrologi normal setelah puncak musim kemarau ekstrem. Masyarakat diminta tetap tenang dan tidak panik,” ujarnya.
Memasuki bulan November, hujan mulai turun meski masih sedikit dan tidak merata. Pada bulan ini petani diminta mulai persiapan tanam, terutama menyiapkan benih jagung dan benih padi.
Desember Waktu Ideal Tanam, Dikenal “Hujan Jagung”
Pada bulan Desember, cuaca diprediksi lebih stabil dan kondusif. Dalam istilah petani, hujan di bulan ini disebut “hujan jagung”.
Ini menjadi angin segar bagi petani. Lahan tegalan tadah hujan sudah bisa mulai diolah untuk tanam jagung dan padi gogo. Sementara di sawah teknis dan semi-teknis, petani sudah bisa mulai semai bibit padi secara masal.
Januari Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang
Tantangan terbesar ada di bulan Januari 2027. Curah hujan diprediksi tinggi disertai angin kencang.
Nujumuddin secara khusus meminta Dinas Perkim Lombok Tengah untuk segera melakukan pemangkasan pohon mulai dari sekarang.
“Langkah ini untuk meminimalisir pohon tumbang di jalan dan permukiman akibat angin kencang di bulan Januari,” tegasnya.
Selain di darat, sektor laut juga terdampak. Gelombang laut di Januari diprediksi ekstrem, sehingga Pelabuhan Lembar berpotensi ditutup sementara demi keselamatan pelayaran.
Meski begitu, Januari juga membawa berkah, yakni musim jamur yang tumbuh subur karena hujan di akhir bulan.
Februari Musim Nyale, Maret Persiapan Panen Raya
Memasuki Februari, cuaca kembali normal dengan hujan dan petir. Bulan ini juga menjadi momen yang paling ditunggu, yaitu musim Nyale (cacing laut).
Puncaknya diprediksi jatuh pada Sabtu, 27 Februari 2027, meski sudah mulai muncul 3 hari sebelumnya.
Nujumuddin menegaskan, munculnya Nyale tidak ditentukan oleh tradisi buatan manusia seperti sangkep warige atau pembacaan bintang rowot. Secara ilmiah, Nyale muncul berdasarkan siklus astronomis, yaitu bulan purnama ditambah lima hari.
Menutup proyeksi, bulan Maret diprediksi hujan intermiten yang sangat ideal untuk persiapan petani menyongsong panen raya padi.|™ Editor: Muhammad ROSIDI
Penulis : TOH
Editor : Rossidi
Sumber Berita : Lombokdaily.net






















