Sapdan, Semukim, Laily Nuraidasari Didepak Bersamaan, Alasan Yayasan Cuma Satu Kalimat: Demi Kondusifitas
JANAPRIA, LOMBOK TENGAH – Jika kemarin satu guru dipecat bikin heboh, kali ini lebih brutal. Madrasah Ibtidaiyah NW Lekor mendadak jadi ladang pembantaian profesi. Tiga guru sekaligus dipenggal karirnya dalam satu ketukan palu yayasan!
Tiga SK kembar identik dari Yayasan Pendidikan “KARIM ABDURRAHIM” beredar dan langsung membakar emosi wali murid. Pemecatan massal tanpa ampun ini resmi diteken 01 November 2026 oleh Ketua Yayasan PATUHURRIJAL, S.Pd.I.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ini daftar korban pembabatan :
1. SAPDAN, S.Pd – Guru Kelas, Tulang Punggung Madrasah
SK No: 01.16/SK/YAS.KARIM/10/2026
2. LAILY NURAIDASARI, S.Pd – Guru Mapel SKI
SK No: 02.16/SK/YAS.KARIM/10/2026
3. SEMUKIM – Guru Mapel Bahasa Arab
Ketiganya: RESMI DIBERHENTIKAN TERHITUNG MULAI TANGGAL 30 OKTOBER 2026.
ALASAN SAKTI: CUMA SATU KALIMAT Kondusifitas
Yang bikin publik curiga, alasan pemecatan di ketiga SK itu tidak mendukung dalam pilkades Desa Lekor
“Untuk menjaga kondusifitas, kenyamanan dan lancarnya kegiatan belajar mengajar di lingkungan MI NW Lekor.”
Selesai. Tanpa rincian kesalahan. Tanpa SP1, SP2, SP3. Tanpa evaluasi kinerja. Tanpa sidang. Cuma satu kalimat sakti hasil rapat pengurus tanggal 30 Oktober 2026, lalu tiga kepala langsung dipenggal!
Ada apa di balik tembok MI NW Lekor? Yayasan main jadi Tuhan?
KORBAN BERSUARA : Dari tahun 2005 (19) TAHUN MENGABDI, DIBUANG SEPERTI SAMPAH
Salah satu korban, Sapdan, S.Pd, buka suara kepada media. Pria yang sudah mengabdi sejak 2005 dan penerima sertifikasi sejak 2013 ini syok berat.b”Saya dipecat tanggal 1 November, surat disodorin langsung. Tanpa pemberitahuan sebelumnya. Tidak ada SP, tidak ada teguran kinerja, tidak ada penjelasan. Tiba-tiba pecat,” ungkapnya lirih namun pedas. Ia mengaku bukan soal uang, tapi harga diri. “Saya dirugikan secara moral. Hak-hak kami, termasuk sertifikasi, tidak jelas. Padahal pengganti kami sudah disiapkan. Ini murni keputusan yayasan tanpa pertimbangan apapun.”
Dua rekannya, Semukim dan Laily Nuraidasari, senasib. Sama-sama guru bersertifikat yang jadi pilar madrasah.
ISU LIAR MEREBAK: BUNTUT PILKADES DAN NEPOTISME?
Warga Lekor pun berspekulasi liar. Pemecatan massal ini diduga kuat bukan soal kinerja, tapi buntut beda pilihan politik Pilkades dan aroma nepotisme kental dalam penunjukan pengganti. Isu “kesembuhan keluarga” dan balas dendam politik berhembus kencang di Tengah Masyarakat.
SK pemecatan ini sudah final. Tembusannya sudah dikirim ke Kemenag Lombok Tengah, Pengawas RA/MI Janapria, Dewan Pembina Yayasan, dan Kepala MI NW Lekor.
Bola panas kini ada di Kemenag Lombok Tengah. Berani bertindak tegakkan keadilan guru madrasah, atau memilih bungkam dan jadi stempel yayasan yang main pecat seenak jidat?
Hingga berita ini naik cetak, Ketua Yayasan Karim Abdurrahim, Patuhurrijal, S.Pd.I, BUNGKAM SERIBU BAHASA. Dihubungi berkali-kali tidak menjawab.
Miris. Dunia pendidikan madrasah di Lekor benar-benar memanas. Guru yang seharusnya dimuliakan, kini dibabat dengan alasan tidak jelas. Lombok Daily masih membuka ruang hak jawab seluas-luasnya untuk Yayasan Karim Abdurrahim dan semua pihak terkait. Editor: Muhammad ROSIDI
(Tim Redaksi ).
Penulis : TOH
Editor : Rossidi
Sumber Berita : Lombokdaily.net






















