“Rakyat Disuruh Main Tebak-tebakan, Pemerintah dan Aparat Diminta Jangan Jadi Penonton”
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
LOMBOK TENGAH – Keberadaan pangkalan LPG 3 kg alias “gas melon” bersubsidi di sejumlah wilayah Lombok Tengah bak cerita siluman. Plang nama pangkalan terpampang gagah, tapi kiosnya tutup mati. Warga yang butuh gas untuk masak malah harus main detektif dulu: “Di sini jual gas nggak ya?”. Ketua LSM Deklarasi NTB, Agus Sukandi, mengungkap kejanggalan itu kepada wartawan, Senin (11/5). Menurutnya, banyak pangkalan sengaja tertutup dari masyarakat. “Plang nama ada, tapi warungnya tutup. Tidak ada yang tahu ada yang jual gas di sana,” sindir Agus.
Harga Melon Rasa Cabe Pedas di Kantong
Tak hanya “hilang” secara fisik, harga gas melon di pangkalan juga ikut-ikutan siluman. Harga Eceran Tertinggi (HET) sudah jelas dipatok Rp14.000 per tabung. Tapi di lapangan, warga dipaksa bayar Rp20.000, Rp21.000, Rp22.000, bahkan tembus Rp25.000 sampai Rp27.000.
“Dari agen ke pangkalan cuma Rp14 ribu. Dari pangkalan ke masyarakat seharusnya Rp18 ribu. Tapi kenyataannya Rp20 ribu, Rp22 ribu, Rp25 ribu, bahkan Rp27 ribu. Ini kok seperti ini? Ini kan mencekik rakyat di kala ekonomi begini,” tegas Agus dengan nada heran.
Agen dan Pengawas, Kemana Saja?
Deklarasi NTB mempertanyakan fungsi pengawasan agen terhadap pangkalan yang menjual semaunya. “Dimana pengawasan elpiji bersubsidi ini? Kok bisa dipermainkan,” kata Agus.
Ia juga menyentil lemahnya kontrol di lapangan. “Masa yang kaya aja bisa beli terus, yang miskin bagaimana nasib mereka? Persoalannya ini harus serius ditangani dengan cepat.”
Desakan Polisi dan Pemda Jangan Tidur
Agus mendesak aparat kepolisian bertindak tegas demi keadilan masyarakat. “Sama siapa lagi masyarakat akan percaya dan berkeluh kesah ketika HET di lapangan tidak sesuai? Pihak pemerintah jangan tidur dan tuli. Aparat juga diminta aktif melakukan pengawasan di masing-masing kios yang ada di kecamatan, kelurahan/desa se-Lombok Tengah.” Yang bikin tambah heran, gas melon malah disebut langka di kios-kios. “Masalahnya di masing-masing kios langka. Kok bisa ya? Apakah ini disengaja atau permainan agen? Ini harus dituntaskan,” pungkasnya.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak Pertamina maupun Dinas Perdagangan Lombok Tengah terkait temuan tersebut. Sementara warga masih harus meraba-raba, antara cari pangkalan yang buka atau siap-siap dompet bolong.
Editor: Redaksi
Penulis : TOH
Editor : Rossidi
Sumber Berita : Lombokdaily.net






















