Janapria, Lombok Tengah — Di perbatasan Desa Prako dan Desa Lelong, Praya Tengah, berdiri formasi batu yang menyimpan banyak cerita: Batu Payung. Tak ada yang bisa naik ke puncaknya, tapi kisah dan mitosnya terus hidup di mulut warga.
Warisan Alam dan Mitos yang Melekat
Batu Payung bukan sekadar batu besar. Di bawahnya tersebar batu-batu kecil yang dulu jadi spot mancing favorit warga. Konon, ayam jago yang dimandikan di sungai sekitar batu ini jadi lebih tangguh saat diadu — bukan untuk mengobati luka, tapi “menjaga kehebatan”. Itu sebabnya kawasan ini dulu ramai, apalagi saat air surut dan ikan bandeng bermunculan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Yang paling legendaris: sumur di tengah tebing. Satu-satunya sumber air untuk warga Kampung Prako dan Lelong. Airnya mengalir nonstop, tak pernah kering, seukuran satu gentong. Warga dulu ambil langsung untuk minum. Kini, mata airnya sudah disedot ke atas dan lokasi aslinya ditutup.
Potensi Wisata yang Terhenti ADD
Bentuk lansekap Batu Payung unik delta bekas aliran sungai dari Mujur. Dulu ada tanggul penahan banjir, dan vegetasi khas tumbuh di sekitarnya. Dengan cerita, sumur abadi, dan pemandangan lendang, warga melihatnya layak jadi taman wisata desa untuk anak-anak.
Sayangnya, rencana itu kandas. Dr Nujumuddin pada Kamis 3/6/2026 menyebut, “Dana desa diharapkan agar destinasi pariwisata Batu Payung perlu dihidupkan lagi.” Proyek wisata sempat dirancang, tapi terhenti karena anggaran ADD dipangkas. Ditambah lagi, aktivitas galian c merusak bentuk kawasan.
Sengketa Lahan Jadi PR
Status tanah juga rumit. Sebagian milik pribadi warisan, sebagian diklaim milik perayaan. Batas atas-bawah beda pemilik. Klaim mutlak sulit, padahal kejelasan lahan penting jika wisata mau dikembangkan.
Saat ini, sekitar 200 warga Kampung Prako masih tinggal di sana. Batu Payung berdiri diam, menyimpan sumur yang tak pernah kering dan mitos ayam jago, menunggu disentuh pembangunan.
Harapan Warga
Dr Nujumuddin menegaskan, Batu Payung punya nilai sejarah dan potensi ekonomi. Tinggal kemauan politik dan dana desa untuk menghidupkannya. Tanpa itu, kisah Batu Payung bisa benar-benar terlupakan.
Dari cerita warga dan ringkasan ada 3 alasan utama kenapa puncak Batu Payung nggak pernah bisa dinaiki sampai sekarang:
1. Bentuk Fisiknya Nggak Masuk Akal buat Dipanjat
Batu Payung itu bukan batu biasa. Bentuknya kayak payung atau jamur raksasa bagian atasnya melebar jauh, sedangkan tiangnya kecil di bawah. Nggak ada pijakan, nggak ada celah, dan sisi batunya licin karena kena angin hujan terus. Secara teknis panjat tebing pun susah, karena overhang ekstrem. Jadi bukan soal berani atau nggak, tapi memang nggak ada jalurnya.
2. Mitos dan Pantangan Warga
Warga Prako dan Lelong percaya Batu Payung itu “berpenunggu”. Cerita turun-temurun bilang, siapa yang maksa naik bakal kena sial atau nggak bisa turun. Dulu ada tradisi mandiin ayam jago di bawahnya biar kuat tanding, tapi naik ke atas dianggap “nggak sopan” sama penjaga tempat itu. Nah, kepercayaan ini bikin nggak ada yang berani coba, bahkan yang dari luar desa. Jadi mitosnya ikut “ngelindungi” batunya.
3. Tebingnya Rapuh + Pernah Kena Galian
Area sekitar Batu Payung udah rusak karena galian C Struktur tanah di bawahnya nggak stabil, dan batunya sendiri berdiri di tebing. Kalau dipaksa dipanjat, risiko runtuh tinggi. Apalagi tanggul lama penahan banjir di situ udah nggak terawat. Jadi selain mitos, faktor keselamatan juga nyata.
Jadi intinya: kombinasi bentuk batu yang mustahil, mitos yang kuat, plus kondisi tebing yang rawan bikin Batu Payung tetap “perawan” sampai hari ini.
Justru karena nggak bisa dinaiki, nilai mistis dan daya tarik wisatanya makin kuat. Kalau suatu saat dibuka jadi wisata, mungkin yang dijual ya “batu yang tak terjamah” itu.||
Editor: Muhammad ROSIDI
Penulis : TOH
Editor : Rossidi
Sumber Berita : Lombokdaily.net





















