PRAYA TENGAH– Meski anggaran desa kian ketat, Kepala Desa Pengadang Zainal Abidin memastikan dirinya akan kembali bertarung di Pilkades mendatang. Sosok yang dikenal bersahaja ini mengaku maju bukan karena ambisi, melainkan panggilan tanggung jawab.
“Tiang tidak tampil untuk mencalonkan diri, tapi bagaimana kita akan dibicarakan di tengah masyarakat kalau tidak siap mengabdi,” ujar Zainal di kantornya, Rabu 3/6/2026.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Desa Luas, Anggaran Terbatas
Pengadang bukan desa kecil. Wilayahnya membentang di 20 dusun dengan penduduk lebih dari 12.000 jiwa dan Daftar Pemilih Tetap mencapai 8.400 orang. Sayangnya, infrastruktur belum merata. Jalan desa masih banyak yang jauh dari standar, pasar belum memadai, dan ketersediaan lahan untuk fasilitas umum jadi batu sandungan.
Dana Desa saja, kata Zainal, tidak cukup menambal semua kebutuhan. “Wilayahnya luas, kebutuhan warga juga besar. DD tidak akan nutup kalau tidak ada kolaborasi,” tegasnya.
Bayang-bayang Pandemi Masih Terasa
Tiga tahun dihantam COVID-19 membuat banyak program desa tersendat. Roda operasional sampah dan ambulans yang sempat dianggarkan harus tertunda. Aturan kementerian saat itu mengarahkan 60% anggaran untuk bantuan langsung, sehingga pembangunan fisik banyak yang mandek.
“Beberapa aset sudah dibangun tapi belum bisa dioperasikan. Lahan untuk KM desa juga belum beres secara administrasi,” ungkap Zainal. Akibatnya, visi-misi periode sebelumnya belum sepenuhnya terealisasi.
Harap DPR Turun Tangan
Untuk periode mendatang, Zainal berharap sinergi lebih kuat dengan DPR dan pemerintah kecamatan. Ia menyebut peran DPR sangat membantu menyalurkan 50–60% aspirasi warga yang tak tercover DD. Mulai dari pembenahan jalan, penataan pasar, hingga penyelesaian status lahan.
“Kalau kolaborasi ini jalan, dalam 3–5 tahun kita bisa lihat perubahan nyata. Tapi kuncinya prioritas dan pengawasan ketat,” katanya.
Pilkades Diprediksi Sengit
Suhu politik Pengadang mulai menghangat. Jika dulu dukungan mencapai 1.500 suara, kini situasi lebih agresif dengan potensi dua calon kuat. Zainal menekankan visi-misi harus realistis, tidak muluk-muluk melebihi kemampuan anggaran.
Isu pemekaran desa juga masih sebatas usulan. Dengan sebaran 20 dusun, Zainal menilai perencanaan infrastruktur harus berlapis dan berbasis kebutuhan tiap wilayah.
Meski tantangan menumpuk, Zainal tetap optimistis. “Yang penting masyarakat tahu kita kerja. Bukan janji, tapi bukti,” tutupnya.
Catatan Redaksi: Pengadang jadi contoh nyata bagaimana desa besar di Lombok Tengah berjibaku dengan keterbatasan fiskal pascapandemi. Pilkades kali ini bukan sekadar kontestasi, tapi ujian meramu harapan 12.000+ warga dengan anggaran yang serba terbatas.||
Editor; Muhammad ROSIDI
Penulis : TOH
Editor : Rossidi
Sumber Berita : Lombokdaily.net





















