KADIS CUMA BISA BILANG ‘KURANG PASOKAN’ – PENGAMAT: JANGAN BODOHI RAKYAT DENGAN ALASAN KAPAL!
Lombokdaily.net – Nusa Tenggara Barat kekeringan semen! Bukan sekadar isu, proyek rakyat lumpuh, tukang nganggur, harga melambung gila. Ironisnya, jawaban pejabat cuma satu kalimat klasik: kurang pasokan dari pabrik.
Kepala Dinas Perdagangan Lombok Tengah, Lalu Setiawan, mengakui kelangkaan ini bukan hanya terjadi di Loteng.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kelangkaan semen terjadi bukan saja di Loteng, tapi di Mataram, Lobar dan Lotim juga. Ini karena kurangnya pasokan dari pabrik. Kami sedang koordinasikan hal ini dengan pihak provinsi,” kata Lalu Setiawan enteng.
Hasil koordinasi itu? Provinsi cuma akan bersurat ke Pelindo agar kapal semen di Pelabuhan Lembar segera dibongkar. Sesimpel itu. Padahal di lapangan, harga sudah mencekik leher.
Fakta yang ditemukan di lapangan jauh lebih panas. Semen Bosowa yang biasanya Rp 61.000 – Rp 62.000 per sak, kini tembus Rp 68.000! Tonasa dan Tiga Roda pun bervariasi, naik tanpa kendali. Alasannya selalu sama: barang tidak ada.
Pengamat Publik Lombok Tengah, Agus Sukandi, meledak mendengar alasan klise tersebut. Menurutnya, publik jangan dibodohi dengan drama “kapal terlambat” dan “kerusakan pabrik”.
“Ini dua kemungkinan, memang tidak ada barang dari pabrik atau memang ada dugaan mau dinaikkan harga? Kita tidak tahu skenario pabrik bersama oknum-oknum pengusaha di sini,” tegas Agus dengan nada tinggi.
Agus membongkar borok distribusi. Selama ini distributor punya jatah sendiri, punya data sendiri. Sistem seperti pupuk. Orang luar tidak bisa masuk seenaknya, harus lewat dia. Inilah yang membuat harga mudah digoreng saat barang langka.
“Dengan adanya kelangkaan ini, langkah distributor ataupun pabrik dia akan menaikkan harga. Konsumen berani beli lebih mahal karena butuh. Ini yang dimanfaatkan,” bongkarnya.
Ia juga menyoroti faktor lain yang jadi kambing hitam, mulai dari penertiban truk tronton gandeng yang kini dilarang, sehingga kapasitas angkut dari 50 ton jadi 25 ton, hingga bongkar muat di Lembar yang sengaja dipersulit.
Kalau dalam seminggu ini tidak selesai, Agus mendesak Kadis Perindag Provinsi harus buka-bukaan di depan publik. Jangan cuma berlindung di balik surat ke Pelindo.
“Kalau cuma dibilang keterlambatan saja, rakyat mana yang percaya? Harus dibuka berapa ribu sak jatah untuk Lombok, siapa distributornya, kemana larinya. Lombok Timur sudah kontak saya karena proyek mandek semua. Semen tidak ada,” pungkasnya.
Kini bola panas ada di tangan Disperindag NTB. Mau terus berlindung dengan alasan “kapal terlambat” atau berani bongkar siapa yang bermain di balik kelangkaan semen ini?. Editor : Muhammad ROSIDI
Penulis : TOH
Editor : Rossidi
Sumber Berita : Lombokdaily.net






















