Oleh : Dr. Alfa Dera, S.H., M.H., M.M.
Kepala Seksi Intelijen Kejaksaan Negeri Lombok Tengah
Ada pola yang terus berulang dan selalu meresahkan. Setiap kali pejabat baru dilantik, setiap kali kasus besar jadi sorotan, atau setiap kali wajah tokoh muncul di media, komplotan penipu langsung pasang kuda-kuda. Mereka penumpang gelap yang lihai membaca momentum.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Yang pertama kali muncul di benak kita saat dapat chat dari nomor baru berfoto pejabat biasanya satu: panik. “Waduh, WhatsApp Pak A kena hack!” Bisik-bisik itu cepat menyebar. Padahal, kepanikan itulah yang justru mereka incar.
Mari kita luruskan. Modus catut nama pejabat untuk pinjam uang ini *bukan peretasan*. Beda jauh dengan pencurian OTP atau jebakan klik link undangan nikah palsu. Di sini, pelaku tidak menyentuh akun asli korban sedikit pun. Triknya sesederhana ini: beli nomor baru, comot foto pejabat dari Google atau berita online, pasang jadi foto profil WhatsApp, lalu mulai sebar jaring. Ini bukan _hacking_. Ini pencurian identitas visual.
Ini Bukan Amatir, Ini Industri
Bayangan kita soal penipu mungkin masih sosok amatir di warung kopi dengan satu HP. Faktanya jauh lebih menyeramkan. Mereka sudah berevolusi jadi kejahatan terorganisir, bekerja seperti pabrik.
Mereka tidak lagi mengetik satu per satu. Dengan satu komputer dan software khusus, sindikat ini bisa menjalankan ribuan nomor WhatsApp sekaligus dengan profil palsu berbeda-beda. Pesan penipuan disebar otomatis ke ribuan target dalam sehari.
Logika bisnisnya sederhana dan kejam: dari 1000 pesan, cukup 10 orang saja yang transfer. Cuan sudah miliaran, dengan risiko tertangkap nyaris nol.
Mengapa Kita Masih Kena? Mereka Jual Rasa Segan
Kalau semudah ganti foto profil, kenapa masih banyak yang kena, termasuk kalangan terpelajar? Jawabannya ada di rekayasa sosial. Pelaku menargetkan celah psikologis kita : .
Otak kita dilatih untuk segan dan patuh pada figur berkuasa. Saat chat masuk dengan foto atasan atau penegak hukum, filter logika kita sering mati. Digantikan rasa tidak enak kalau menolak.
Trik kedua adalah , ilusi urgensi. Mereka tidak pernah minta uang dengan santai. Selalu ada cerita darurat: keluarga sakit, butuh dana taktis mendadak, atau kegiatan sosial mendesak. Tujuannya satu, membuat kita panik dan transfer tanpa berpikir panjang.
Taktik Paling Berbahaya : Meminta Nomor Orang Lain
Ada satu jurus mereka yang lebih licik. Mereka tidak langsung minta uang. Chat pertama isinya minta tolong: “Bisa minta nomornya Pak Kades X? Saya kehilangan kontak.”
Ini cara mereka memetakan jaringan sosial kita. Saat mereka hubungi Kades X, mereka sudah punya “legitimasi”: “Nomor Bapak saya dapat dari si A.” Memberi nomor orang lain sembarangan sama saja membukakan pintu rumah teman kita untuk dirampok.
3. Jurus Ampuh Memutus Rantai Penipuan Ini
Melawan sindikat ini tidak butuh jadi ahli IT. Cukup dengan rasionalitas digital. Jadikan 3 hal ini kebiasaan baru:
1. Lupakan Foto Profil, Cek Nomornya
Foto profil bisa dicuri siapa saja. Nomor telepon tidak. Jika “pejabat” chat pakai nomor baru dan permintaannya aneh, anggap itu sebagai red flag
2. Lawan dengan Video Call
Ini tes pamungkas. Penipu 100% tidak akan berani angkat video call karena wajahnya ketahuan. Mereka akan berdalih: lagi rapat, sinyal jelek, kamera rusak. Jika minta uang tapi menolak video call, langsung blokir.
3. Jangan Asal Kasih Nomor Teman
Jika ada yang minta nomor kolega Anda, konfirmasi dulu ke orangnya lewat jalur komunikasi lama yang pasti aman. Tanyakan, “Boleh saya kasih nomormu ke orang yang ngaku Pak X ini?
Pada akhirnya, logika birokrasi kita juga harus jalan. Pejabat dan aparat punya kode etik ketat. Meminjam uang atau minta dana talangan via WhatsApp ke bawahan adalah hal yang sangat tidak wajar.
Sindikat ini adalah mesin yang mencari celah panik kita. Senjata terbaiknya bukan aplikasi canggih, tapi sikap tenang, rasional, dan kebiasaan verifikasi ganda. Jika kita semua melakukannya, “industri” penipuan ini akan mati kelaparan. (TH).
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi
Sumber Berita : Lombokdaily.net






















