LOMBOKDAILY.NET. MANDALIKA, KUTA – Meriah, ramai, penuh rasa. Begitu suasana Mandalika Street Food Festival No.2 yang digelar di Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika jelang balapan MotoGP akhir pekan ini.
Ratusan ribu tamu tumpah ruah. Bukan cuma di sirkuit, rezekinya nyebar sampai Mataram, sampai kampung-kampung sekitar. Ini bukan lagi cuma soal balap motor.
“Event itu hanya pemicu. Yang penting bagaimana menciptakan living destination selama 365 hari di Mandalika,” kata perwakilan ITDC dalam sambutannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Master plannya pun sudah jelas. Sirkuit jadi pusatnya. Sebelah barat jadi destinasi wisata halal dan hiburan, sebelah timur bakal dibangun Nusa Dua-nya Lombok – Premium Destination dengan pantai indah, residens dan hotel bintang lima ke atas.
Festival kali ini full didukung BRI. Di usia yang mau 131 tahun Desember nanti, BRI menegaskan 70% portofolionya memang untuk mikro dan UMKM.
“Darahnya BRI memang ngurusin UMKM. Jadi sangat cocok kami jadi bagian dari festival ini,” ujar perwakilan BRI.
Yang bikin haru, sambutan Gubernur NTB Dr. Lalu Muhammad Iqbal. Menurutnya, sekarang Mandalika bukan lagi kita jadi tamu di rumah sendiri. Ini milik kita.”Beda MotoGP Mandalika dengan MotoGP lain di dunia. Cuma di sini ada UMKM. Cuma di sini ada tari tradisional sebelum balapan. Cuma di sini ada museum di dalam sirkuit,” tegas Gubernur Iqbal.
Bahkan tema tahun ini diambil dari koleksi museum berusia ratusan tahun, Skardiu – patung kuda yang dulu dipakai mengangkat raja, lambang kecepatan.
Gubernur juga titip pesan nampol. Selama MotoGP, Mandalika itu bersih, terang benderang, tidak ada sampah. “Bisa nggak bersih dan terang benderangnya setahun? Jangan cuma 4 hari. Dan kita orang NTB ini mayoritas Muslim, muliakan tamu. Mari kita senyum terus,” katanya disambut tepuk tangan.
Soal rasa? Jangan ditanya. Ada 20 lebih lapak. Ada Nasi Bandi Express, Mie Ayam Panca Usaha, Nasi Kebuli Nusantara Food, Tahu Telur Moing Etri, Jajanan Dapur Nenggulan, Nasi Ayam Sisit Kecombrang dari Boga Bali Kitchen, Yamien-Dimsum Bakmi Candu, Nasi Gurih Pindang dan Canai Aceh, sampai Sate Sukmarasa dan nasi balap puyung.
Ditanya rasanya, Gubernur cuma jawab singkat:
“Kalau nanya saya repot. Di lidah saya cuma ada dua: enak, sama enak banget.”
Perwakilan Direktur ITDC yang nyobain Siomay Bandung sambal Lombok juga ngaku pedasnya nendang.
“Namanya Lombok ya pedes. Tapi rasanya luar biasa. Ini ngingetin masa kecil saya,” katanya.
Puncaknya, Jubir Pemprov NTB kasih satu kata untuk festival ini:
“Makmur Mendunia.”
Harapannya sederhana: turis datang makin lama tinggalnya, makin banyak belanjanya, ekonomi warga ikut naik kelas. UMKM Lombok tidak lagi nonton, tapi ikut jadi pemain utama.
Dan kabar baiknya, Pemprov dan ITDC juga sudah siapkan master plan baru untuk Desa Sade. Biar desa adat itu makin tertata, gorong-gorong, listrik, dan desainnya digarap desainer papan atas Indonesia. | Editor : Muhammad ROSIDI



















