MATARAM –Perjalanan menuju pendidikan tinggi di tingkat global tidak selalu berangkat dari fasilitas besar atau institusi ternama. Bagi I Gede Wira Aditya Tanaya, pemuda asal Lingkungan Babakan, Kecamatan Gerung, Lombok Barat, langkah tersebut justru dimulai dari lingkungan sederhana dan pendidikan karakter berbasis komunitas yang ia jalani sejak usia muda.
Wira berhasil lolos Beasiswa LPDP 2025, salah satu program beasiswa paling kompetitif di Indonesia yang dikelola oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan, untuk melanjutkan studi magister di University of Sussex, Inggris. Ia akan menempuh program Media Practice for Development and Social Change, sebuah bidang studi yang memadukan praktik media, riset, dan upaya mendorong perubahan sosial.
Sebelum menempuh pendidikan formal di perguruan tinggi, Wira aktif mengikuti Pasraman Yowana Dharma Sastra. Pasraman merupakan lembaga pendidikan non-formal umat Hindu yang berfokus pada pembinaan karakter, kedisiplinan, etika, serta pemahaman nilai budaya dan kehidupan bermasyarakat. Kegiatan Pasraman umumnya dilaksanakan di luar jam sekolah formal dan menjadi ruang belajar bagi generasi muda untuk memperkuat sikap spiritual, moral, dan sosial.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Bagi Wira, Pasraman Yowana Dharma Sastra bukan sekadar tempat belajar keagamaan, melainkan ruang pembentukan karakter. Di sana ia belajar tentang tanggung jawab, konsistensi, tata krama, kerja sama, serta pentingnya menghargai proses. Nilai-nilai inilah yang kemudian menjadi bekal penting dalam perjalanan akademik dan organisasinya.
“Sejak di Pasraman, saya terbiasa diajarkan untuk disiplin, bertanggung jawab, dan menghormati proses. Itu sangat membantu ketika saya harus melewati tahapan seleksi beasiswa yang panjang dan kompetitif,” ungkap Wira.
Wira merupakan lulusan S1 Ilmu Komunikasi IAHN Gde Pudja Mataram. Selama masa studi, ia aktif dalam berbagai kegiatan organisasi, sosial, dan kepemudaan, serta mencatatkan sejumlah prestasi di tingkat nasional, Salah satunya di Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI). Pengalaman tersebut membentuk kemampuan komunikasi, kepemimpinan, dan kepekaan sosial, kompetensi yang relevan dengan bidangh studi yang akan ia tempuh di Inggris.
Menurut Wira, keberhasilan menembus Beasiswa LPDP tidak semata ditentukan oleh asal kampus atau jurusan, melainkan oleh kejelasan visi hidup dan komitmen untuk memberi dampak bagi masyarakat. Ia menilai pendidikan karakter yang diperoleh sejak dini, baik melalui keluarga, lingkungan, maupun lembaga non-formal seperti Pasraman, memiliki peran besar dalam membentuk pola pikir tersebut.
Ke depan, Wira menyatakan komitmennya untuk berkontribusi bagi generasi muda, khususnya dari daerah. Ia berencana mengembangkan sebuah platform edukasi yang menyediakan informasi, panduan, dan pendampingan terkait beasiswa LPDP serta peluang studi ke luar negeri. Inisiatif ini diharapkan dapat membantu pelajar dari berbagai latar belakang agar lebih percaya diri dan memiliki akses yang setara terhadap pendidikan tinggi.
Kisah Wira menjadi bukti bahwa pendidikan karakter berbasis komunitas dan budaya lokal, seperti yang dibangun melalui Pasraman Yowana Dharma Sastra, mampu melahirkan generasi muda daerah yang tidak hanya berprestasi secara akademik, tetapi juga siap bersaing dan berkontribusi di tingkat nasional maupun global.|®|
Penulis : Rossi
Editor : Rossidi
Sumber Berita : Lombokdaily.net






















