Lombokdaily.net. PRAYA – Ketua Komisi I DPRD Lombok Tengah, Ahmad Syamsul Hadi menyoroti gelaran MotoGP Mandalika. Menurutnya, tribun banyak kosong dan dampaknya belum kerasa sama sekali buat warga Lombok Tengah.
Dia minta panitia jujur hitung data penonton. Jangan cuma klaim angka besar. Harus dihitung harian, tanggal 9, 10, 11 Oktober kemarin itu berapa yang betul-betul duduk di tribun.
“Karena kursi tribun juga akan banyak yang kosong. Sesuai nggak karcis yang dijual dengan jumlah penduduknya, day to day, tanggal berapa itu race-nya itu. Hitung aja. Jangan-jangan itu juga bubble,” kata Ketua Komisi I yang juga juru bicara gabungan Komisi DPRD ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut dia, urusan untung rugi MotoGP itu urusan pusat. Tapi untuk Loteng pertanyaannya simpel kita dapat duitnya berapa?
“Intinya motor Gp ini belum berdampak. Belum. Belum berdampak,” tegasnya.
Meski kritik, ia tetap mendorong event internasional itu lanjut di Mandalika. Lanjut aja, karena itu bagus buat daerah.
Cuma ke depan, ada dua PR besar. Pertama soal akomodasi. Masih ada kabar penonton sudah bayar hotel tapi tidak dapat kamar alias hotel bodong. “Kan kita masih mendengar ada hotel bodong, orang udah bayar terus kemudian gak dapet tempat. Itu kan harus dipikirkan,” ujarnya.
Kedua soal macet dan komunikasi. Ia menyebut ada tribun yang sengaja tidak dijual karena akses macet luar biasa. Kalau begitu berarti kita belum siap urus traffic.
Untuk itu, Pemda Loteng diminta duduk satu meja dengan ITDC, MGPA dan semua pengelola KEK Mandalika. KEK itu bukan cuma sirkuit, tapi ada desa penyangga juga. Jadi suara-suara minus dari warga lingkar bisa berkurang.
Soal klaim penonton tembus 157 ribu, dia heran. Kalau angka itu benar, mestinya tribun tidak kosong melompong. Apakah karena panas jadi penonton ngumpul di bawah tribun atau karena memang ada masalah teknis, ia tidak paham.
“Ini olahraga mahal, aturannya ketat. Nggak bisa beli tiket terus turun dari mobil langsung duduk di tribun. Enggak, harus jalan berkilo-kilo. That’s sport. Expensive. Mahal,” tutupnya. Editor : Muhammad ROSIDI
Penulis : TOH
Editor : Rossidi
Sumber Berita : Lombokdaily.net



















