LOMBOKDAILY.NET. PRAYA – Catatan besar untuk Lombok Tengah. Angka kemiskinan memang sudah turun di bawah rata-rata Provinsi NTB, tapi angka pengangguran malah naik.
Hal itu ditegaskan Ketua Komisi I DPRD Lombok Tengah, Ahmad Samsul Hadi, SH atau akrab disapa Bung Memet.
“Jadi catatan kita yang paling besar itu, jika angka kemiskinan kita turun tapi penganggurannya naik, itu kan harus ada kerja ekstra,” kata Bung Memet.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, selain pengangguran, PR lain adalah infrastruktur dan pelayanan publik, terutama kesehatan. Rumah sakit di Loteng memang sudah naik kelas, tapi pelayanannya juga harus ikut naik.
Untuk tahun anggaran 2027, dewan sudah minta agar hal-hal itu jadi prioritas. Pihak legislatif pasti mendukung langkah konkret pemerintah daerah untuk pembangunan yang lebih baik.
Data 500 Ribu Nganggur Masih Tanda Tanya
Bung Memet mengaku belum dapat angka pasti berapa persen kenaikan pengangguran. Di rapat terakhir, dewan sudah minta Dinas terkait untuk mendata lebih maksimal, termasuk pengangguran setengah terbuka.
“Kalau logika kita, penduduk kita itu 1 juta 118 sampai 1,2 juta jiwa, itu malah setengahnya dibilang pengangguran. Sekitar 500 sampai 600 ribu usia produktif,” jelasnya.
Angka itu dinilai tidak masuk akal dan tidak sebanding dengan capaian pembangunan Pemkab Loteng. Makanya ia minta Dinas Tenaga Kerja memastikan lagi ke BPS.
Investasi Banyak, Lapangan Kerja Sepi
Bung Memet menyoroti investasi yang masif, terutama di sektor pariwisata. Menurutnya investasi itu belum menghasilkan lapangan kerja yang banyak.
“Potensi pajak memang benar dari pariwisata, tapi dalam skala yang lebih besar belum masuk. Jadi dia seperti bubble, seperti gelembung,” sindirnya.
Ia mencontohkan, DPRD sedang menggodok insentif berusaha dan insentif investasi, tapi sampai sekarang belum jalan. Begitu juga dampak MotoGP dan kehadiran KEK Mandalika.
“Kalau ditanya PAD MotoGP untuk kita berapa, selalu tidak pernah ada kepastian. Kehadiran KEK Mandalika ini belum nampak. Belum, saya belum melihat itu,” tegasnya.
Meski begitu, ia optimis untuk tahun anggaran 2027. PAD Loteng sudah tembus Rp631 miliar.
Job Fair Bagus, Tapi Harus Lebih Masif
Adanya Job Fair dalam rangkaian HUT Loteng dinilai bagus untuk mengurangi pengangguran, tapi harus lebih masif. Harus jelas, dalam setahun lulusan kita berapa, yang terserap lapangan kerja berapa.
Soal penyebab susah kerja, Bung Memet menyebut bisa jadi karena soft skill dan hard skill SDM kita yang kurang. Tapi pangsa pasar dan data serapan tenaga kerja dari investasi juga tidak pernah jelas.
Soal anak muda yang milih-milih pekerjaan, maunya langsung enak dan gaji besar, ia menanggapi santai.
“Ya nggak bisa dong, UMR kita berapa? 2,7 juta. Ya kalau orang sudah mulai kerja, start dengan UMR, ya gimana. Kalau milih-milih kerja silahkan saja, tapi harus pasti dia expert atau tidak, ahli di bidangnya atau tidak,” katanya.
Ia juga mengungkap data, tiap tahun ada sekitar 10.000 warga Loteng yang mendaftar menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) ke luar negeri. | Editor: Muhammad ROSIDI
Penulis : TOH
Editor : Rossidi
Sumber Berita : Lombokdaily.net



















